Pencangkokan Terumbu di BATAM
Coral reef and mangrove conservation
Octopus diving club - Batam, Indonesia
Perkenalan
Dimulai dari keprihatinan beberapa anggota POSSI akan adanya kerusakan terumbu karang di perairan Batam, yang merupakan salah satu faktor kurangnya minat penyelam-penyelam untuk mencoba berpetualang di Batam. Meeting kecil yang dilakukan oleh IB Ngesti Dewa, Kurniawan UB dan Luky L Santoso mencetuskan ide untuk melakukan beberapa kegiatan penyelamatan alam sekaligus untuk meningkatkan semangat organisasi POSSI. Akhirnya setelah mendapatkan restu dari pak Cris Winasis, OCTOPUS DIVING CLUB sebagai Representatif POSSI Kepri membuatlah proposal undangan dan dibuatlah meeting project penanaman terumbu karang di NPM yang dihadiri manajemen NPM, TURI KPN dan para anggota POSSI.
Pemasangan reefball dan Penanaman terumbu karang bertujuan untuk menghidupkan kembali daerah mati, terutama daerah bekas terumbu karang. Apabila terumbu karang hidup, otomatis ikan-ikan terutama ikan karang akan kembali berkumpul dan proses perkembang biakan akan semakin cepat dibandingkan pada saat ikan-ikan tersebut tersebar tanpa perlindungan rumah-rumah karang. Background Masih jelas ingatan kami pada tahun 2002 ketika melakukan latihan rutin, kami menemukan adanya satu species kuda laut yang "berkeluarga" di ladang lanun.di depan sea sport Nongsa Point Marina, Seperti bapak ketahui kuda laut adalah hewan yang hanya dapat hidup pada daerah tidak tercemar, dan mereka adalah type hewan yang setia pada tempat mereka dilahirkan, - mereka tidak akan melakukan migrasi apabila tidak terpaksa. sehingga apabila ada satu kawasan yang didalamnya ditemukan hewan unik ini, maka dengan bangganya kita dapat menyatakan daerah itu tidak tercemar. Tapi dengan berat hati kami sampaikan kenyataan bahwa didepan sea sport sudah tercemar oleh limbah minyak hitam. Sehingga singkat cerita kami tidak menemukan lagi habitat kuda laut. Pada tahun yang sama seorang rekan diver pernah mencoba melakukan kegiatan yang dilakukan di dive2 resort di Bali, yaitu dengan mencoba memanggil ikan-ikan koral.
Kegiatan ini berhasil dengan baik dapat ditandai dengan mulai berkumpulnya ikan-ikan disekitar kami pada setiap latihan diadakan. Dan kembali lagi pada tanggal 9 Feb 06, kondisi laut berminyak juga mungkin salah satu faktor menghilangnya ikan-ikan tersebut. Batch 1 yang direcruit tangal 9 Feb 06, menjadi penonton acara menarik dari elang laut yang sedang mencari ikan, dibeberapa Negara, atraksi elang laut ini memang “dipelihara” dengan menyediakan bangkai2 ayam pada saat-saat tertentu. Batam memiliki iklim yang unik disebabkan bentuk geografisnya yang merupakan kepulauan.

Dengan kisaran rata-rata : Dari data diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan restorasi terumbu karang paling baik dilakukan pada bulan April. Batam sendiri memiliki berbagai jenis terumbu karang yang beberapa diantaranya masuk dalam klasifikasi langka, yaitu blue coral. Terumbu karang biru ini memiliki keunikan yaitu kandungan obat-obatan yang dapat digunakan sebagai obat kanker.
Coral Reef Coral Reef atau terumbu karang adalah simbiose mutualisma dari dua makhluk yang berkerja sama dan saling menguntungkan, Pholyps dan algae adalah hewan dan tanaman yang bekerja sama membentuk rumah terumbu karang. Pholyps adalah hewan satu sel yang memangsa zooplankton dan phytoplankton yang terdapat dalam perairan yang sehat. Sekresi dari pholyps ini yang diserap oleh algae dan dimasak dengan bantuan chorophyl lalu dibentuk menjadi rumah kapur dimana sang pholyps dapat beristirahat dengan tenang.
Rata-rata pertumbuhan terumbu karang sangat lambat, sepanjang 1cm pertahun, tetapi memang tergantung dari tiap daerah. Pada beberapa daerah yang memiliki sumber protein yang tinggi, sinar matahari cukup, suhu hangat sepanjang tahun, arus dan gelombang yang tidak terlalu kuat untuk menghancurkan terumbu tetapi cukup untuk terus bergerak dan mengalirkan makanan, tutupan sedimentasi lumpur tidak ada, jumlah predator seimbang, maka terumbu karang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat.
Beberapa penelitian pertumbuhannya dapat mencapai 3-5 cm pertahun. Terumbu karang dari hasil penelitian ternyata dapat hidup secara generatif ( pembuahan sel ) dan dapat juga dari vegetatif atau patahan induk. Pada beberapa kasus tertentu, arus dan gelombang kuat yang memecahkan cabang terumbu akan menghanyutkan terumbu tersebut kesuatu daerah dimana dia dapat berkembang biak dan tumbuh, walaupun tentu saja, apabila terjatuh kedaerah berlumpur, terumbu itu dapat mati. Terumbu karang sering kali dihancurkan oleh manusia, Karena digunakan sebagai bahan pondasi rumah, apabila dibakar menjadi bahan kapur, dijadikan hiasan-hiasan dan di bom karena terumbu karang merupakan rumah ikan yang pasti selalu dikerumuni oleh ikan.
Selain manusia sebagai perusak utama, terumbu memiliki predator alam yaitu terutama ikan kakatua ( parrot fish ), bulu babi, bintang laut, siput dan berbagai hewan laut lainnya. Pemangsa dalam jumlah yang wajar akan membentuk suatu ekosistem yang baik. Tetapi pada penelitan yang dilakukan oleh team ini mendapati bahwa terdapat ledakan jumlah predator terumbu karena akibat2 khusus, misalnya disebelah timur laut p. Putri, jumlah parrot fish yang berlimpah diatas ambang batas diakibatkan adanya pemburuan ikan kerapu ( grouper fish ) yang berlebihan ( Over fishing ). Ketika kerapu sebagai pemangsanya habis maka parrot fish ini berkembang biak tidak terkendali. Hancurnya terumbu karang mengakibatkan ikan-ikan karang yang biasanya dapat berkumpul, mencari makan dan berkembang biak, menjadi tersebar dan tidak dengan mudah mendapatkan pasangan untuk berkembang biak pada saatnya, sehingga secara langsung akan terjadi penurunan kepadatan ikan disuatu perairan. Dan kali ini team berhasil melakukan pembiakan vegetatif dengan cara melakukan pencangkokan
Project objectives
1. Melakukan Reefcheck – pemeriksaan kondisi terumbu karang di perarian Nongsa dan Melakukan fish check – Pemeriksaan kondisi ikan-ikan diperairan Nongsa.
2. Membuat daerah konservasi yang terjaga dari eksploitasi penangkapan ikan sebagai daerah buffer atau supplier ikan. Didaerah ini ikan dapat bertelur dan berkembang biak dengan baik tanpa diganggu.
3. Membuat reefball – rumah ikan buatan, mengumpulkan ikan sehingga dalam kepadatan yang tinggi, tingkat perkembangbiakan diharapkan juga semakin tinggi dan melakukan pencangkokan terumbu untuk dapat mengumpulkan berbagai jenis species terumbu di perairan Nongsa. Membuat kumpulan padat yang mendekatkan induk-induk terumbu sehingga dapat berkembang biak secara generatif.
Progress 1.
Reefcheck. + Fish Check,: Ditemukan komposisi pemangsa terumbu karang dalam jumlah yang relatif banyak didaerah perairan induk terumbu ( sebelah barat p. putrid ) . Dengan daerah tutupan terumbu karang hanya 10%, ikan PAROT FISH ditemukan sampai 6 ekor per 10m2. Selain itu ditemukan juga juga 4 starfish jenis pentagonal per 10m2, dengan diameter 20-25cm. Bulu babi ditemukan 10-15 ekor per-m2.
Berkumpulnya pemangsa terumbu ini diakibatkan karena adanya daya tarik serpihan terumbu karang patahan sisa terumbu yang menarik pemangsa datang. Pemangsa dalam jumlah wajar tidak akan menimbulkan kerusakan parah, bahkan akan membentuk mata rantai makanan dalam sebuah ekosistem yang baik, tetapi sebaliknya berkembang biaknya predator dapat menyebabkan kerusakan ekosistem, kemungkinan penyebabnya adalah over fishing grouper fish ( kerapu ) yang menjadi predator mereka. Sedangkan kemungkinan penyebab ( Possible Cause ) dari patahan terumbu karang didaerah tsb adalah dari jangkar kapal wisatawan dan nelayan. Ditemukan juga adanya karang-karang mati akibat cianida ( racun ikan ).
Tapi tidak ditemukan adanya sisa pengeboman karang dilokasi ini. Dibeberapa lokasi di perairan Nongsa ditemukan adanya terumbu karang yang mati akibat virus cyano, virus ini sangat mudah sekali menyerang terumbu-termbu yang luka. Diperairan p. Putri ini juga seringkali ditemukan tumpahan minyak. Di perairan depan camping ground NPM ( tg. Pandan ) di lokasi nursery, pemangsa ditambah dengan ditemukannya siput ( gonggong – bhs lokal ) sampai 30-40 ekor per dua ( 2 ) meter2 yang bisa masuk kedalam jarring penahan ikan parrot fish / sea urchin / star fish yang dikhawatirkan memangsa terumbu cangkok. Sehingga nursery di lokasi ini berjalan kurang baik dengan menyisakan hanya 55% terumbu karang yang hidup siap tanam. Sayangnya team tidak berhasil mendokumentasikan dengan foto, karena keterbatasan dana. Dari 120 tatakan terumbu cangkok dari 3 species utama terumbu karang keras, hanya 65 buah yang hidup.
Percabangan baru dari terumbu Fish check area penanaman terumbu :

SEBELUM PENCANGKOKAN SESUDAH PENCANGKOKAN TERUMBU
Kepadatan ikan : 2 setiap 10m2 Kepadatan ikan : 200-300 ekor setiap 10m2
Banyaknya jenis : 2 setiap 10m2 Banyaknya jenis : 8-10 jenis.
Good news : disebelah timur laut pulau putri nongsa masih ditemukan tutupan terumbu hingga 75% yang sangat diharapkan dapat dijaga dengan baik.
2. Pembuatan area konservasi.
Kebiasaan penduduk sekitar perairan nongsa membuat bubu dan menanamnya ( membongkar karang, menumpuk bubu dengan terumbu karang yang percah menyebabkan sulitnya suatu daerah dapat ditentukan sebagai daerah konservasi. Masih perlu pembahasan. 3. Pembuatan Reefball dan penanaman terumbu karang Reefball dibuat berdasarkan banyak skala, besar kecil tergantung dari kemampuan team. Semakin besar dan kuat semakin mungkin digunakan sebagai pemecah gelombang, bentuknya yang bulat diharapkan cukup untuk mengalihkan benturan ombak dan arus laut tidak membalikkan reefball.
Penanaman Terumbu karang, selain harus memiliki kriteria syarat hidup terumbu, misalnya suhu, pencahayaan, asupan mineral juga harus memperhatikan predator. Secara mudah, begitu daerah dengan jarak tempuh radius 1km ditemukan koral, maka koral lain akan dapat hidup disana. Walaupun dari system penjagaan setelah dilakukannya pencangkokan tidak dapat terawasi, ditandai dengan banyak terumbu yang patah bahkan pralon pengikat terumbu dan batu tatakan pecah akibat benturan benda keras, secara keseluruhan, team sudah dapat menunjukkan bahwa project ini berhasil.
Management Framework
Management Objective 1: Menjaga keutuhan ekosistem terumbu karang di daerah perairan Nongsa secara umum.
1.1 Melakukan restorasi ulang terumbu pada daerah yang SUDAH DISEPAKATI SEBAGAI DAERAH KONSERVASI.
1.2 Memperluas daerah tutupan terumbu yang secara langsung akan meningkatkan produksi ikan perairan tersebut
1.3 Menjaga dan mengawasi dari bahaya penghancuran yang dapat terjadi
1.4 Mempromosikan keuntungan ekonomis untuk masyarakat daerah sekitar dengan adanya project tersebut.
1.5 Melakukan penelitian dan pembelajaran yang terus menerus.
Management Objective 2 : Menjaga dan bahkan menambah kekayaan daerah konservasi
2.1 Menjaga dan menambah populasi dari species yang sudah mulai langka, misalnya kerapu ( grouper fish ), blue coral, kuda laut.
2.2 Membuat kebijakan untuk eksploitasi alam yang bijaksana dengan tidak merusak dan berlebihan.
2.3 Menjaga dan selalu melakukan update kekayaan dan jenis species yang ada di area Nongsa.
2.4 Promosi untuk penelitian konservasi species langka.
2.5 Promosi untuk penelitian legenda/mitos yang menyebabkan kerusakan salah satu mata rantai ekosistem, misalnya kuda laut dimitoskan sebagai obat kuat
Management Objective 3: Melakukan Promosi kegiatan pendidikan dan meningkatkan kesadaran kebutuhan daerah konservasi.
3.1 Meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya penjagaan kekayaan alam.
3.2 Meningkatkan promosi untuk wisatawan yang sadar akan alam.
3.3 Meningkatkan promosi untuk kesadara dari para wisatawan akan sampah yang dapat menyebabkan kerusakan pada alam.
3.4 Mempromosikan dan mengenalkan kebijakan dan hukum yang berlaku di daerah tersebut.
Management Objective 4: Melakukan regenerasi dan memperkuat jaringan para konservator
4.1 Pengayaan keilmuan dengan buku-buku literature
4.2 Promosi regenerasi, menumbuhkan minat para konservator baru 4.3 Melakukan kerja sama dengan berbagai instansi terkait


Pembuatan nomor reefball juga tidak bisa menggunakan semen warna, karena daerah tertentu misalnya di perairan TURI ini memiliki banyak ganggang yang dengan cepat melekat dan menutupi warna reefball. Pada daerah tertentu dengan tingkat pertumbuhan ganggang tidak terlalu tinggi – pewarnaan reefball sangat membantu –pencahayaan yang akhirnya menyebabkan dasar laut berwarna-warni. Pertumbungan ganggang yang terlalu tinggi merupakan indikasi terjadinya erosi lapisan tanah dari daratan yang membawa mineral tanah subur.
Specification :
A. REEFBALL
Bahan Reefball terbuat dari betonan bertulang baja yang dibentuk dengan rongga didalam yang bergungsi sebagai tempat berkembang biak ikan karang. Tetapi dalam beberapa kondisi, ban bekas mobil atau truck juga dapat digunakan, hanya saja tidak dapat dengan mudah di tempeli terumbu. Ban mobil juga harus dilapisi dulu dengan semen, karena kandungan ban memiliki bahan yang berbahaya untuk terumbu, sehingga terumbu tidak dapat hidup.
Berat Favorit disesuaikan dengan peralatan pengangkutan ke laut yang dimiliki, dan secara otomatis, berat ini juga mempengaruhi besar reefball. Bentuk Semi bola, untuk mencegah hambatan terhadap arus. Dan kaki dapat tertanam mencengkeram dasar laut. Untuk kondisi arus sangat kuat, dengan indikasi banyaknya reefball terguling ( jarang terjadi ) , perlu diperhitungakn masalah berat reefball atau pemasangan reefball dengan membenamkannya kedasar lebih dari kedalaman wajar. Bentuknya yang semi bola - streamline menyebabkan hambatan arus kecil, sehingga reffball tidak terbalik diterjang arus Kaki reefball tertanam di dasar laut, sehinga kedudukan semakin kokoh Reefball ini memiliki lubang-lubang untuk
A. tempat ikan masuk.
B. Tempat menempelkan tatakan terumbu karang Warna
pada daerah tertentu lapisan luar reefball yang diberi warna cantik akan tertutup sedimentasi, pada daerah lain akan terutup algae, sehingga reefball di Indenesia sebetulnya tidak perlu diberi warna. Didaerah tertentu pewarnaan reefball dapat dilakukan untuk memperindah dasar laut apabila reefball disana tidak ditanami terumbu ( menunggu perkembangbiakan generatif ) , juga karena kandungan pasir besar sehingga reefball tidak terlampau cepat ditutupi alga atau sedimentasi.

Posisi peletakkan Posisi reefball di dasar laut disebarkan dengan prinsip dasar : apabila berdekatan, terumbu akan semakin mudah melakukan pembiakan generatif. Tetapi apabila terlalu dekat, maka terumbu dapat dengan mudah terbentur fins dari penyelam yang sedang melakukan pemeriksaan/perawatan terumbu. Reefball yg sudah ditumbuhi terumbu 4 meter Diver/snorkler
B. TATAKAN TERUMBU Bahan :
Semen, pasir, peralon besar untuk cetakan dipotong2, peralon kecil untuk tatakan, kawat baja untuk besi ancor. 10cm Posisi peralon di pinggir Lubang pengikat Besi ancor Adonan semen 10cm
Pengambilan terumbu
Pengambilan terumbu yang berlebihan akan mengakibatkan kematian pada terumbu induk, pastikan anda memotong tidak lebih dari 10%. Beri tag pencatatan tanggal dan waktu pemotongan. Sehingga pada saat pemeriksaan nanti, anda akan memiliki data apa yang terjadi pada terumbu yang anda potong.
1. Mouring bouy
Pada saat kembali untuk melakukan pemeriksaan atau menjalankan pemanenan, anda dapat mudah menemukan lokasi dengan cara meninggalkan mouring bouy atau jangkar apung, yang dimaksudkan dengan pelampung yang diikat dengan tali ke batu karang di dasar laut, sehingga nelayan tidak perlu repot membuang jangkar ( yang dapat merusakkan koral ).
2. Reefcheck dan fish check
Lakukan reefcheck dan fish check. Apapun yang akan anda putuskan, dengan data yang cukup – keputusan anda akan jadi maksimal.
3. Ekosisem dan habitat
Terumbu Terumbu karang memiliki habitat hidup di daerah yang bersuhu hangat, dengan kondisi perairan subur ditandai dengan melimpahkan plankton yang merupakan makanan utamanya. Untuk dapat mendapatkan daerah terbaik periksa suhu rata2 dan salinitas, paling tidak daerah pembibitan harus memiliki kondisi alam yang sama dengan induk terumbu. Apabila daerah dan kondisi alam yang berlainan dari sifat arus, suhu, salinitas dan lainnya, gunakan iklimatisasi yaitu terumbu karang yang dicangkok di biasakan dulu untuk dalam kondisi terjaga sebelum ditanam, didaerah khusus nursery.
4. Faktor perusak
Analisa dan kenali kemungkinan perusak yang ada didaerah tsb, misalnya saja daerah dengan tingkat keaktifan tinggi ( banyak pengunjung ), atau juga daerah yang memiliki banyak predator alam. Pada daerah nursery, penjagaan dan perawatan sangat diperlukan karena patahan terumbu dapat menarik minat para predator.
Polutan penghancur terumbu karang :
Ø Sampah plastic
Ø Minyak kotor sisa buangan kapal
Ø Limbah pabrik/rumah tangga
Predator alam dari terumbu karang :


Faktor lain perusak :
Ø Sedimentasi tinggi
Ø Arus terlampau kuat
Ø Konsentrasi plankton rendah
Ø Daerah tangkapan ikan ( bubu/jarring/bom ikan)
Peralatan pengambil bibit terumbu
1. Kantong plastic
2. Diver rescue balllon, yang bisa diikatkan ke keranjang untuk mengangkat kerangjang terumbu naik.
3. Palu dari karet
4. Tatah tajam.
5. Sarung tangan
6. Tali + carabiner untuk mengikat diri ke terumbu pada saat arus.
7. Kompas.
8. Container/ember air besar ( sebesar mungkin yang bisa dibawa )
Standard Operational Procedure
Setelah melakukan pencangkokan terumbu team sepakat untuk membuat aturan kerja yang terbaik yaitu :
1. Lakukan reefcheck dan fish check dan pendataan.
2. Pastikan transportasi perpindahan dengan tidak mengubah suhu udara/salinitas air
3. Terumbu tidak terekpose dengan udara luar pada saat proses berlangsung.
AREA PENCANGKOKAN
Masih diperlukan usaha untuk mendapatkan tempat terbaik, setelah mendapatkan data banyaknya terumbu yang hancur terbentur benda keras didaerah percobaan, team akan menjauhkan reefball sekitar 200m kearah karang besar.

Pencangkokan terumbu

Prinsip

Iklimatisasi / Nursery
Pada beberapa kasus setelah melihat lokasi penanaman terumbu yang bersahabat bagi bibit terumbu baru, team dapat saja memutuskan untuk mengadakan lokasi nursery dimana bibit akan dapat diawasi lebih ketat, terhadap kemungkinan buruk.
Untuk itu diperlukan penataan yang baik yang disarankan menggunaan meja pengikat dari bahan kayu/besi dan jarring ikan. Penggunaan meja ini berguna untuk menghindari predator snail shell dan tertutup sedimentasi.
Menurut pengalaman, dengan meletakkan langsung di dasar laut, koral lebih cepat tertutup sedimentasi sehingga terumbu bibit banyak yang mati. Dengan menggunakan meja dari jaring, diharapkan sebagian lumpur sedimentasi dapat jatuh dan mengurangi tutupan di badan terumbu, juga predator snail shell walaupun ada, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandinkan bila tidak menggunakan meja.
Menghindari predator selain snail shell. 
Untuk predator ikan kakatua ( parrot fish ), sea urchin atau star fish, digunakan kandang dari kayu/besi dengan penutup jaring
Congratulate the team member on alphabetical order
Agus - PT AIT; Agus Riyadi-UIB; Ahmad - TURI; Ali Subchan - PT AIT; Ambarwati - PT AIT; Aminudin - TURI; Apriyanto-PT AIT; Aryo - PT AIT; Beni Wirachman - PT AIT; Cepi - KPN; Chris Winasis, Devi - PT AIT; Didik - TURI; Dody S Pamungkas - PT AIT; Desman Wardi –COREMAP; Deasy - NPM Engel – NPM ; Firdaus - TURI; Fajar yuliana - PT AIT ; Heriyanto - PT NPM; I B Ngesti Dewa ( Budit ) ; Jul - Waikiki dive; Johannes - KPN; Joko Pramono - NTB; Jumiati - TURI; Jurianto – Laksana Samudra; Karel - PT AIT; Kun Anggoro – KPN; Kurniawan UB-NPM; Lusy Apriana - PT AIT; Olsen Francis Oscar - NPM; Reinhard - NONGSA SECURITY; Rizky-PT AIT; Ricky Kinipulu – Batam Pos,; Robertus Belarminus - PT AIT; Sanjaya A. - PT AIT; Saptoni - PT AIT; Soleh Hudin-PT AIT; Suharyati-PT AIT; Tabrani-TURI security ; Tommy Susanto – TURI;Tri Mulyani (Tri) - PT AIT; Tri Mulyati (Mely) - PT AIT ; Turseno - PT AIT ; Widyawati - PT AIT; Wan Irham-DKP; Zulham Effendi - TURI dan masih banyak lagi bantuan yang kami dapat dari rekan-rekan yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.