Nerusin cerita hutan yang hilang kemaren.
Kita lagi diskusi masalah penyelamatan monyet perak sama pak Abbas - ketua RT kp. Nongsa, yang juga tetua penduduk desa. Karena monyet ini tidak seperti lutung coklat yang masih banyak, monyet perak ini sudah hampir punah, tinggal 8 ekor dan dalam satu kumpulan saja. Walaupun ketua RT, tapi pak RW itu datang tuh kalo dia panggil ( nggak kebalik ya pak.. ) beliau cerita kalau pohon-pohon buah di desa2 mereka sering di ganggu monyet, karena itu mereka benci sama monyet2 itu. Dan kita coba luruskan ceritanya kalau manusia yang salah karena ngebabat hutan tempat mereka makan, makanya monyet keluar hutan dan menggangu desa. Sambil2 manggut2 pak RT juga cerita kalau banyak diantara penduduk yang “bertugas” menangkap hewan2 di hutan. Ada yang bertugas menangkap tupai dengan target 30 ekor perhari, atau ular juga burung. Kalau dijaring dapat burung kedidi ya disantap ..
kalau dapatnya elang, dipotong sayapnya dan dipelihara seperti melihara ayam. Jadilah kita berkunjung kesalah satu penangkap hewan itu, bu Tini namanya.
Pernah denger cerita gini nggak :
“Seorang petani menemukan telur berserakan dipinggir hutan, dari telur2 yang pecah itu ada sebutir telur yang masih utuh, akhirnya dia bawa pulang dan dia simpan di antara telur2 ayam yang sedang dierami induknya. Akhirnya telur2 ayam itu menetas, juga telur misterius kita yang ternyata adalah telur burung elang. Jadilah elang kecil itu satu keluarga dengan ayam2 didalam kandang pak Petani. Singkat cerita ketika sedang cakar2 tanah cari cacing, si burung elang kecil itu tanya sama bundanya si ibu ayam, “ eh bunda, itu yang terbang tinggi di angkasa itu siapa ya ?“ itu elang nak, si raja langit. Dia memang gagah perkasa mampu terbang melampaui gunung dan sanggup terbang melintas samudra. Moral of story : anak elang yang menyangka dirinya itu sebetulnya cermin kita, sebetulnya kita mampu terbang tinggi sampai ke awan, tapi karena tidak diasah kemampuan itu hilang, dan jadilah kita ayam yang mengais-ngais cacing.
Nggak tahu deh, presentasi kita soal penyelamatan hewan2 dan hutan ini didenger nggak sama penduduk desa, Jadi inget cerita pak Gito, kalau dia juga marah penduduk desa karena menjual monyet2 ke restoran, disana para mongkey eater yang menebas pucuk kepala monyet lalu otaknya diaduk pake sendok dan dimakan, sementara itu monyet lagi nangis2 kesakitan. Sementara dia yang marinir aja yang pernah dengan terpaksa hidup dihutan nggak akan tega. Buat para mongkey eater, tobat dong..
