Hancurnya terumbu karang di perairan KEPRI akibat Sianida
Pict. 1 Terumbu yang hancur - sorry blom punya under water camera

pict. 2 Karang api after dive
Penggunaan sianida untuk menangkap ikan banyak dilakukan oleh nelayan-nelayan di KEPRI. Mereka melarutkan sianida dengan air dan memasukannya ke dalam botol penyemprot, atau pipa pralon dengan pompa sederhana. Dengan berenang dan menyelam, menggunakan masker dan snorkel, mereka mencari sasaran ikan atau lobster yang biasanya bersembunyi di antara karang. Bila sasaran telah dijumpai, botol penyemprot yang berisi larutan sianida tersebut disemprotkan sehingga ikan atau lobster akan mabuk dan lebih mudah ditangkap. Ikan-ikan yang disemprot dengan kandungan potas mulai 10 gr hingga 80 gr umumnya mabuk dan akhirnya mati. Untuk memabukkan ikan-ikan yang berukuran lebih besar, diperlukan kandungan potas yang lebih besar pula. Pada penyemprotan dengan kandungan potas 80 gr, ikan terbesar yang dijumpai mati adalah Chephalopolis sp.
dengan ukuran berat 72,4 gr. Sedangkan ikan-ikan yang disemprot dengan kandungan potas 5 gr atau kurang, umumnya tidak mabuk.
Masalahnya sekarang, sianida yang disemprotkan tersebut tidak hanya mengenai ikan/lobster yang menjadai sasaran utamanya, melainkan juga polip karang dan organisme lain penghuni ekosistem terumbu karang.
Di Indonesia, penggunaan sianida untuk menangkap ikan telah dilarang karena dapat merusak ekosistem terumbu karang. Rusaknya terumbu karang akan berakibat pada hilangnya habitat ikan, dan pada akhirnya ikan akan semakin sulit berkembang biak.
Apakah Sianida itu?
Sianida merupakan bahan kimia Carbon-Nitrogen yang dapat bergabung dengan senyawa organik maupun non organic. Dalam pertambangan, sianida biasanya digunakan untuk memisahkan emas dari batuan. Dalam pertanian, sianida juga dikenal sebagai herbisida. Dikalangan nelayan, sianida dikenal dengan nam 'potas'.
Karena harga dipasaran tidak terlalu mahal maka penggunaan sianida terus berkembang. Salah satunya adalah untuk penangkapan ikan, selain mudah penggunaannya, hasil yang diperoleh merupakan ikan hidup yang memiliki nilai jual tinggi Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan ikan hidup untuk ikan hias dalam aquarium, dan juga ikan-ikan untuk konsumsi di restoran-restoran mewah, baik dalam maupun di luar negeri.
Dr. Robert Richmond dari Universitas Guam melaporkan bahwa karang Pocillopora damicornis yang diekspose sianida dengan konsentrasi 4 ppt selama 10 menit mulai memutih dalam 4 jam. Sembilan dari sepuluh contoh species mati dalam 4 hari.
Perlu gerilya untuk bisa menyadarkan masyarakat, tidak bisa dilarang langsung.
Moga2 dari petugas kepolisian ada yang bantu menertibkan penjualan sianida.
ada yang punya saran ? hub kami di
contact@octopusdive.orgLuky L Santoso