My photo
Indonesia
Together we can save the nature, because Extinct will be forever, we have to save it now !

31.3.07

Pelanduk yang mulai langka

foto Tragulus javanicus atau kancil/pelanduk ini saya ambil dari www.malaysiasite.nl


Pelanduk sedang diproses sebagai ikon Batam ( atau bahkan Kepri ?) , tanpa sadar bahwa hewan ini sedang menuju kepunahan. Hewan ini diburu oleh banyak masyarakat untuk dikonsumsi dagingnya. Habitatnya di padang rumput dan perdu karena makan dedaunan dan rumput yang sudah kitan menyempit, menjadikannya mudah terlihat oleh manusia, sementara itu usaha untuk penangkarannya sepertinya tidak ada. Ketika tahun 2004 pada acara ekspedisi ODC dalam rangka penelitian daerah selam di Barelang, Mangrove yang terbangun mendapati pelanduk ini pura-pura mati didepan tenda. Ternyata ketika tenda dibuka si pelanduk ini sedang asyik makan kacang sisa ngobrol semalam. Karena masih belum kenal dengan sifatnya ini mangrove mengantungi si pelanduk dalam kantong plastik. Dan tentu saja ketika kita sedang lengah karena sibuk mengepak barang, si Pelanduk melompat dan menghilang dalam hutan. Lokasi ditemukannya pelanduk terakhir ini di pantai melur menyebrang pada pantai kedua di sebelah kanan. ( Ya, kita menyebrang laut, berenang dan barang2 dimasukkan kotak plastik ) . Pemerintah kota Batam mau mengembang biakkan si maskot ini sebelum punah ? - harus itu.

untuk saran anda bisa hubungi kami : Contact@octopusdive.org web : www.octopusdive.org
atau hp saya 0812 77 31003

Luky L Santoso



Tarsius - Kukang


foto saya ambil dari dave@hedweb.com

Kegemaran masyarakat pada hewan unik membawa dampak buruk, beberapa orang yang menyebut dirinya "pecinta hewan" tidak mengerti kebutuhan dan habitat hewan peliharaan atau tangkapannya, akibatnya hewan menjadi stress lalu mati. Di Batam ini saya melihat beberapa orang memelihara kukang ini. Kukang - atau Tarsiidae (Order Primates) masih ditemukan didaerah Riau ini. saya tidak tahu dari genus mana yang ada, tetapi kukang atau tarsius ini punya lima species Tarsius bancanus (western tarsier) yang mulai punah di kalimantan , T. syrichta dari sebelah selatan philipina and tiga species lain dari Sulawesi, T. dianae, T. spectrum and T. pumilus (Corbet and Hill 1992; Musser and Dagosto 1987).
Hewan ini lebih banyak hidup dipepohonan dari mulai 7m sampai di tanah. Dengan makanan utamanya adalah serangga besar (Hill and Smith 1984, Payne et al., 1985). selain itu, dia makan kumbang, kecoak, belalang, kupu2, burung kecil, burung bakau, ular kecil dan kelelawar. (Adam and Wilcock 1996).
Team ODC menemukan orang yang memelihara kukang ini tidak jauh dari simpang frangki, suatu tempat pencucian motor/mobil. Disana kukang dipelihara seadanya, dengan diberi makan potongan ubi kayu. Perlu investigasi lebih lanjut.

punya saran ? : hub contact@octopusdive.org

Burung Bakau - King Fisher

The Javan Kingfisher (Halyon cyanoventris) ini banyak ditemukan di hutan bakau Nongsa.


foto gw ambil dari www.bali-bird-park.com burung ini pemakan serangga dan ikan. Dia tidak berkelompok dan hidup diantara akar-akar hutan bakau.

Konservator kecil



Tepat jam 9:30 pagi ketika sebuah minibus dan mobil angkot sewaan SDIT tiba di Nongsa kampong, dimana akan diadakan mata pelajaran sains. Kali ini mata pelajaran sains yang biasa diadakan dikelas akan dibuat lain dengan pengajaran di lapangan. Bekerja sama dengan SDIT Ulil Albab, Octopus Diving Club, divisi SAR dan divisi Konservasi terumbu karang dan hutan bakau mengadakan pengajaran singkat tentang keselamatan diri dan penyelamatan alam.

Setelah berbaris rapih 30 orang anak dipimpin langsung oleh ibu wali kelas, Kepala sekolah - ibu Desy, dan pak guru, membuka acara dengan berdoa bersama dan dilanjutkan dengan beramah tamah dengan bapak Abbas sofyan, tetua kampong Nongsa. Pada acara berdoa bersama ini team dari ODC sempat gugup menghadapi para hafidzin/hafidzah kecil, didepan mereka mau baca doa apa coba ? ( doa naik kendaraan aja sampe sekarang nggak apal tuh.. he he bikin malu )

Kemudian mereka duduk dengan rapi di atas terpal yang digelar dibawah pohon besar yang rimbun, untuk belajar bersama ODC. Kali ini materi yang diberikan tentang kecelakaan tenggelam yang sering terjadi pada anak-anak, baik itu di kolam ataupun di pantai. Secara singkat diterangkan bahwa tidak ada peralatan pelampung yang aman 100%, tetapi satu-satunya cara apabila tidak ingin anak-anak tenggelam adalah kemampuan berenang. Diterangkan juga bahaya lain akibat adanya pasang surut, air dapat bergerak menuju area-area yang berbahaya, dan palung laut dan secara mudah tingkat kedalaman suatu area laut dapat di pelajari dari warna. Semakin gelap, maka laut diarea tersebut semakin dalam. Bahaya yang lain adalah heat stroke dan dehidrasi akibat cuaca terlalu panas, tidak menggunakan topi atau payung pelindung dan kurang minum. Bila pingsan di darat kan bisa tergeletak di lantai, tapi kalau di laut, pingsan ya tenggelam lah, walaupun di air dangkal sekalipun. Jadi ketika cuaca paling panas dan sinar Ultra violet paling tinggi jam 11:00 – 13:00 diusahakan anak kecil tidak beraktivitas di laut ( hebatnya si Nadya kecil tahu loh ! ) Dan yang paling penting, 95% korban anak kecil meninggal karena terlewat dari perhatian orang dewasa.

Hewan berbahaya di laut yang diterangkan yaitu cone shell dan ular laut, yang tentu saja, sama seperti binatang lain, mereka hanya melakukan pembelaan diri sehingga dengan terpaksa menyerang manusia yang dengan ceroboh memasuki area mereka tinggal. Karang api hanya tersenyum saja ketika di protes seorang anak, “om pelit, saya nggak boleh pegang ularnya “, dia tidak tahu walaupun ular yang dipegang bukan ular laut ( yang super berbisa ) tetap saja tangan sudah keringat dingin karena ular yang kemungkinan berbisa umur 1 bulan itu mulai menggeliat marah. Kelingking yang digigit sayang dua minggu lalu saja masih bengkak dan berdenyut sakit.

Rasa capek Karang api, Dugong, sting ray dan Dodi dari team ODC, dalam menyiapkan bahan pelajaran dan merangkainya dalam bentuk permainan agar berbagai materi bisa diserap dengan baik luruh ketika melihat antusias anak-anak dengan gumaman-gumaman lucu. Kegiatan mata pelajaran ini ditutup dengan penerangan apa itu terumbu karang, bagaimana pholyps bekerja sama dengan algae membentuk benteng dan bisa mati dengan mudah akibat sampah yang kita buang. Sementara terumbu karang yang baik menghasilkan rumah ikan dan makanan bagi mereka. Kehancuran terumbu karang ini bisa dirasakan ketika tangkapan ikan semakin berkurang, dan para nelayan dengan terpaksa berjuang lebih keras, lebih jauh ketengah laut hanya untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih sedikit. Ketika dari tadi team ODC berhasil membuat anak-anak ini tertegun, team ODC kembali terbeliak ketika Nadya kecil tahu bahwa terumbu itu adalah hewan phollyps dan tanaman algae yang bekerja sama dalam bentuk simbiose mutualisme.

Tidak terasa, jam pelajaran sudah selesai, padahal sesi menanam pohon buah belum terlaksana, jadi ya terpaksa, pak Abbas yang menanamkan sendiri pohon sumbangan ODC. Bahkan makan siangpun terpaksa mereka lakukan di dalam bus atau dimakan nanti disekolah. Pak Abbas yang memperhatikan acara dari awal sempat terheran-heran melihat tingkah laku anak-anak ini yang dia nilai sangat berbeda, “Aneh ya, mereka begitu rapih mau baris, duduk dengan tenang mendengarkan cerita kita, tidak seperti anak-anak lain yang tidak bisa duduk tenang dan bisanya buat onar”

Sementara buat kami para anggota ODC , acungan jempol buat ibu/pak guru, karena tugas “mendiamkan” murid dengan dongengan selama 3 jam saja sudah sulit, apalagi mereka yang harus bertugas berjam-jam setiap harinya ya ? dan untuk anak-anak SDIT ini, yang bukan hanya pak Abbas saja, kami pun terheran-heran mereka sudah tahu apa itu pholyps dan algae, simbiose mutualisme ( perasaan gw baru tahu itu setelah SMA .. ) apa itu dehidrasi dan heat stroke ! – wah hebat.. pantes saja diantara mereka ada yang jadi bintang pelajar tingkat KEPRI yach ? dan pr buat kami, semoga pada pertemuan selanjutnya kita sudah bisa memimpin doa

– sampai ketemu lagi para konservator kecil !

Karang api, Dugong, sting ray adalah nautical name dari anggota ODC yang tidak mau disebut namanya dan kegiatan ini disponsori oleh PT. Advanced Interconnect Technologies.
Hancurnya terumbu karang di perairan KEPRI akibat Sianida


Pict. 1 Terumbu yang hancur - sorry blom punya under water camera





pict. 2 Karang api after dive




Penggunaan sianida untuk menangkap ikan banyak dilakukan oleh nelayan-nelayan di KEPRI. Mereka melarutkan sianida dengan air dan memasukannya ke dalam botol penyemprot, atau pipa pralon dengan pompa sederhana. Dengan berenang dan menyelam, menggunakan masker dan snorkel, mereka mencari sasaran ikan atau lobster yang biasanya bersembunyi di antara karang. Bila sasaran telah dijumpai, botol penyemprot yang berisi larutan sianida tersebut disemprotkan sehingga ikan atau lobster akan mabuk dan lebih mudah ditangkap. Ikan-ikan yang disemprot dengan kandungan potas mulai 10 gr hingga 80 gr umumnya mabuk dan akhirnya mati. Untuk memabukkan ikan-ikan yang berukuran lebih besar, diperlukan kandungan potas yang lebih besar pula. Pada penyemprotan dengan kandungan potas 80 gr, ikan terbesar yang dijumpai mati adalah Chephalopolis sp.
dengan ukuran berat 72,4 gr. Sedangkan ikan-ikan yang disemprot dengan kandungan potas 5 gr atau kurang, umumnya tidak mabuk.

Masalahnya sekarang, sianida yang disemprotkan tersebut tidak hanya mengenai ikan/lobster yang menjadai sasaran utamanya, melainkan juga polip karang dan organisme lain penghuni ekosistem terumbu karang.
Di Indonesia, penggunaan sianida untuk menangkap ikan telah dilarang karena dapat merusak ekosistem terumbu karang. Rusaknya terumbu karang akan berakibat pada hilangnya habitat ikan, dan pada akhirnya ikan akan semakin sulit berkembang biak.

Apakah Sianida itu?
Sianida merupakan bahan kimia Carbon-Nitrogen yang dapat bergabung dengan senyawa organik maupun non organic. Dalam pertambangan, sianida biasanya digunakan untuk memisahkan emas dari batuan. Dalam pertanian, sianida juga dikenal sebagai herbisida. Dikalangan nelayan, sianida dikenal dengan nam 'potas'.

Karena harga dipasaran tidak terlalu mahal maka penggunaan sianida terus berkembang. Salah satunya adalah untuk penangkapan ikan, selain mudah penggunaannya, hasil yang diperoleh merupakan ikan hidup yang memiliki nilai jual tinggi Hal ini seiring dengan meningkatnya permintaan ikan hidup untuk ikan hias dalam aquarium, dan juga ikan-ikan untuk konsumsi di restoran-restoran mewah, baik dalam maupun di luar negeri.

Dr. Robert Richmond dari Universitas Guam melaporkan bahwa karang Pocillopora damicornis yang diekspose sianida dengan konsentrasi 4 ppt selama 10 menit mulai memutih dalam 4 jam. Sembilan dari sepuluh contoh species mati dalam 4 hari.

Perlu gerilya untuk bisa menyadarkan masyarakat, tidak bisa dilarang langsung.
Moga2 dari petugas kepolisian ada yang bantu menertibkan penjualan sianida.

ada yang punya saran ? hub kami di contact@octopusdive.org

Luky L Santoso

Penyelamatan hutan tropis dan bakau di KEPRI


pict.1 Dugong - Memanen buah Rhizopora

Ada berita bagus, Jajaran Polsek Meral, Senin sore 19 maret 2007 berhasil mengamankan ratusan kayu balak tim jenis meranti bakau di lokasi pelabuhan ro-ro Sei Raya, Kecamatan Meral yang belum jadi. Ratusan kayu balak tim ini diamankan karena tidak memiliki kelengkapan dokumen. Saat dilakukan penghitungan ternyata jumlah kayu balak tim jenis meranti bakau berjumlah sebanyak 135 batang. Daerah KEPRI yang kepulauan tentu saja akan sangat menyulitkan para petugas kepolisian untuk mengamankan wilayah, cara yang paling efektif menurut saya adalah memberikan pendidikan pada masyarakat tentang bahaya kehancuran alam, sehingga masyarakat dapat bertindak aktif dan melaporkan setiap kegiatan yang mencurigakan pada pihak berwajib. Selain dapat mencegah kehancuran lebih dasyat lagi, masyakat bahkan bisa mengadakan reboisasi kembali apabila mereka mengerti hasil yang akan didapat dari lestarinya hutan kita. ODC dalam kemampuan yang terbatas, karena kebanyakan anggota berasal dari back ground masyarakat industri elektronika, pelajar dan pengusaha berusaha mendapatkan ilmu tentang reboisasi hutan bakau dengan otodidak dibantu media buku dan internet, mencoba melakuakan reboisasi di beberapa area terutama di hutan Nongsa. Dengan mengerahkan beberapa pemuda/pemudi local yang juga mendapatkan sharing ilmu tentang pentingnya penyelamatan alam.



pict. 2 Dugong dan Reef melakukan penanaman

Ketika kepiting atau ikan2 payau sudah mulai datang lagi, sudah mulai berkembang biak, maka masyarakatlah yang akan mendapatkan keuntungan. ODC juga dibantu oleh Ibu Camat, pak Lurah tapi dukungan penuh dari ketua RT. Nongsa Kampung pak. Abbas Sofian juga Manager marina mr. Francis di Nongsa Point Marina dan rekan-rekan pelatih layar – Pak Weng Samsi dan David lee yang membantu kami dengan sangatlah menggembirakan.











pict. 3 Boat master
Penanaman bakau paling mudah adalah jenis Rhizopora. Bijinya yang panjang seperti pedang dengan mudah dapat ditancapkan dan dia akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi itupun ternyata hanya didaerah dengan habitatnya, yaitu area payau dan berlumpur. Kami berhasil menanam kembali suatu daerah sekitar 10m2 dengan mudah di hutan Nongsa. Tetapi ketika kami coba didaerah pasir ternyata gagal total. Padahal daerah2 yang perlu direboisasi hampir selalu sudah tidak memiliki tanah subur lagi. Lewat bantuan mr. Francis kami mencoba melakukan penanaman didaerah Nongsa Point Marina tetapi gagal karena daerah pantai pasir Putih dan tidak ada daerah teduh. Percobaan kedua dicoba dengan menanam bibit bakau dipolybag selama 3 bulan sehingga akar sudah keluar terlebih dahulu tetapi tetap gagal karena ditanam pada bulan Januari ( hasilnya adalah ombak besar secara perlahan membongkar polibag yang tertanam dalam ).
Menanam bakau di pasir adalah hutang ODC yang masih belum bisa kami penuhi.

Punya saran untuk kami ? hub. : contact@octopusdive.org.

Luky L Santoso

30.3.07

Coral Reef and Mangrove Conservation ODC ketemu bapak Wakil Walikota


Akhirnya kita laporan sama wakil walikota tentang keindahan alam Batam terutama bawah air. Berbagai pulau-pulau yang memiliki keindahan terumbu dan ikan karangnya secara pasti dirusak dengan kehadiran kapal-kapal pengeruk pasir yang sanggup menusukkan nozelnya permukaan air. nozel-nozel bergerigi ini akan menggilas apa saja yang ada dibawah permukaan air, termasuk terumbu dan hewan-hewan kecil lainnya. Kita juga melaporkan beberapa daerah yang kita saksikan sendiri mengalami kehancuran, dari daerah wisata menjadi daerah yang ditinggalkan. ODC sendiri berhasil membuktikan bahwa perairan Batam cocok untuk mencangkok terumbu karang. ( tunggu laporan selanjutnya )

Penyelamatan Hutan Nongsa



Kita menemukan suatu daerah hutan bakau yang masih asli - cakep banget. Boiga dendrophila atau golden ring snake, masih banyak, sempat juga kelihatan burung2 Ardeola speciosa – blekok, elang White-bellied Sea Eagle (Haliaetus leucogaster), Biawak sepanjang 1m lebih, juga ular air bakau (Natrix fasciata compressicauda), sementara pepohonannya lebih didominasi sama rhizopora dengan akar isapnya yang menjuntai menawan. tapi dengan 34 jenis tanaman bakau lainnya, Hutan Mangrove Nongsa sangat menawan. Turis2 sudah mulai datang kesana untuk melihat kunang-kunang dimalam hari. Masih ilegal memang, karena belum ada pengelola yang benar-benar berhak dan mendapatkan ijin dari pemerintah. Moga-moga saja siapapun itu yang mendapatkan ijinnya, tetap akan menjaga kelesatarian hutan ini. Team ODC sudah berulang kali menyuarakan pada para pemilik modal untuk dapat mengelola hutan ini sebagai wisata petualangan, semoga saja dapat terlaksana sebelum semuanya terlambat.

Luky L Santoso

contact@octopusdive.org

www.octopusdive.org

Beruang madu


Dan lagi-lagi nyuri gambar ( gw ambil dari http://news.nationalgeographic.com ). Beruang madu adalah salah satu contoh hewan yang sudah sangat jarang bahkan bisa dikatakan sudah punah di daerah Batam. hewan-hewan ini lebih mudah ditemukan di rumah-rumah berberapa pejabat daerah dibandingkan di hutan bakau dimana dia biasa berburu madu. Selain babi hutan dan pelanduk, beruang ini diburu untuk dijadikan hewan peliharaan yang unik. Sayangnya akhir yang tragis dari satwa2 liar akibat ketidak tahuan masyarakat yang ingin memelihara beruang ini menyebabkan hewan2 ini mati mengenaskan. Dan akhirnya nanti , anak-anak kita akan mempelajari hewan ini dari buku saja.
Luky L Santoso - contact@octopusdive.org

Silver Langur


Di hutan bakau didaerah Nongsa masih ditemukan silver langur ( foto gw ambil dari www. travelblog.org) karena sulit sekali mengambil gambar hewan ini. Sudah langka di daerah Batam, dan memang tinggal satu kelompok dengan jumlah delapan ekor saja. Karena unik ( anaknya berwarna orange ) hewan ini diburu untuk dijadikan peliharaan. Tetapi jarang sekali yang bisa tertangkap hidup, biasanya penduduk lokal menangkapnya dengan jaring dan perangkap.
Monyet ini semakin terdesak dan mulai sering muncul di desa-desa daerah nongsa karena hutan mereka telah habis dibabat. Makanannyapun mulai langka, sehingga mereka terpaksa mencuri buah-buahan dipohon milik penduduk. Dan akhirnya penduduk memiliki alasan untuk memburu mereka - karena menggangu.
Usulan pengadaan wilayah konservasi yang dijadikan daerah wisata nampaknya masih harus di kejar, sebelum semuanya punah. Punah itu selamanya, tidak akan mungkin di adakan lagi.

ODC di tabloid Investigasi


Sudah seminggu Coral reef and Mangrove Conservation ODC Batam, kumpul lagi sama temen lama banget yang ternyata kehilangan HPnya, jadi nggak bisa kontak-kontakan lagi. Bang Arifin si Wartawan Investigasi ngewawancarin kita. Tapi yang jelas, ODC nggak bisa sendirian - kita hanya mencoba bergerilya dengan harapan masih ada yang peduli sama bumi.
www. octopusdive.org